Latest News

Bersama Pelaku Sejarah 10 November

Minggu 6 November 2016 di adakan acara sederhana oleh Karang Taruna RT 13 Kelurahan Mojo,   ada yang menarik dan mengharukan di acara peringatan menyambut Hari Pahlawan 10 November 2016 pada kali .

Selain lomba fashion show anak-anak dengan pakaian ala pejuang. Suasana haru ikut mewarnai acara tersebut, yakni saat warga setempat mendengarkan cerita Moekari (92) pahlawan, dan veteran pejuang, sekaligus pelaku Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Dikisahkan, di usia 18 tahun ‎dirinya mendapat pendidikan militer bentukan Jepang, dan menjadi Polisi (Tokubetsu). Kemudian berbagai tugas harus dijalankan, disitu nyawa anak bangsa ini dipertaruhkan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) atau membela dan melindungi Jepang, sebagai induk yang mendidiknya dengan ilmu kemiliteran.‎

“Saat itu, Jepang sengaja menyiapkan pemuda-pemuda terpilih. Salah satunya saya, di didik kemiliteran menjadi polisi,” ujar Moekari mengawali ceritanya.

Sejak Proklamasi 17 Agustus 1945, sejumlah persoalan menghadang, dan prajurit ‎Polisi Istimewa, termasuk dirinya harus angkat senjata, menjaga keamanan Kota Surabaya, melucuti persenjataan militer Jepang dan juga harus berhadapan dengan pasukan Sekutu yang ikut membonceng pasukan Belanda yang ingin kembali menguasai dan menjajah Indonesia.

Ditambahkan, Tokubetsu awalnya disiapkan untuk menjadi garda depan kekuatan militer Jepang, untuk melawan kehadiran Sekutu di Indonesia, khususnya di Jawa Timur.‎

‎”Ini yang harus dipahami oleh semua pihak, pasukan kami (Tokubetsu) atau Polisi Istimewa memang bentukan Jepang, tetapi sebagai anak bangsa (Indo‎nesia), kami cinta tanah air dan harus membelanya dengan nyawa sebagai taruhan,” jelas Moekari.

Disebut, suasana kacau dan pemerintahan Jepang di Indonesia yang mulai rapuh (imbas dari kekalahan Jepang di Perang Asia Timur Raya. Dan, dua kota, Nagasaki dan Hirosima yang di bom atom oleh Sekutu) membawa dampak psikologis kekuatan Jepang di Indonesia. ‎

Saat itu, dengan gagah berani Muhammad Jasin, ‎mengambil alih kepemimpinan, karena kendali tertinggi yakni Pemerintah Jepang telah kacau, sebagian dipulangkan ke negara asalnya‎.

“Bapak Muhammad Jasin ‎kemudian mengambil alih komando pasukan Polisi Istimewa. Mengamankan Kota Surabaya, dan harus berhadapan dengan Sekutu termasuk Belanda yang ikut masuk kembali, membonceng Sekutu,” kenangnya.

Berjibaku, hidup dan mati dalam pertempuran tidak dapat dihindari, untuk mempertahankan Kota Surabaya. Melucuti kekuatan militer Jepang, mengumpulkan senjata hasil rampasan yang kemudian diberikan kepada kelompok-kelompok pejuang (rakyat sipil). Termasuk juga diberikan kepada Gatot Subroto pimpinan pejuang perlawanan rakyat.

“Karena negara kita saat itu baru berdiri, tidak punya apa-apa,” katanya.

Seiring dengan itu, keganasan Tentara Belanda semakin menjadi, melalui aksi-aksi brutalnya yang dikenal dengan Agresi Belanda ke dua‎. Banyak personil pasukan Polisi Istimewa yang gugur, baik akibat kekejaman langsung yang dilakukan Belanda, atau melalui mata-matanya, warga pribumi yang pro Belanda.

Moekari adalah satu dari ratusan personil Polisi Istimewa yang selamat dari Pertempuran 10 November 1945. Dia bersyukur bisa menikmati kemerdekaan, meski kehilangan kaki kirinya.

Di acara peringatan Hari Pahlawan yang digelar di kampung itu, dia ha‎dir ditemani Tari, putrinya yang sempat menulis kisah perjalanan perjuangan Moekari dalam buku berjudul 500 KM, kisah perjuangan Moekari, mempertahankan Kota Surabaya, terdesak dan harus mundur ke sejumlah wilayah kabupaten/kota di Jawa Timur, dan melihat satu demi satu rekannya gugur.

Ikut ‎hadir di acara itu, ada pendiri, ketua umum dan anggota Gerakan Peduli Pejuang Republik Indonesia (GPP-RI). Menggunakan seragam GPP-RI, Pudji Hardjanto menyampaikan, sudah selayaknya semua elemen menghargai perjuangan Moekari dan pejuang-pejuang lainnya.

“Siapa yang mengatakan kita belum merdeka?. Lihat perjuangan Pak Moekari, salah seorang pejuang yang masih tersisa ini. Apa yang kita nikmati dan kita rasakan sampai hari ini, adalah hasil perjuangan mereka (para pejuang). Tetapi, ayo kita renungkan, apa yang telah kita perbuat atau kita berikan kepada mereka. Banyak diantara mereka yang hidupnya susah, menderita, tidak ada yang peduli. Jadi tidak sepatutnya kita mencaci apalagi merongrong kedaulatan NKRI, karena itu sama dengan meremehkan perjuangan mereka,” urai Pudji.

Ketua Umum GPP-RI Martudji, juga menguraikan perjalanan sejarah perjuangan Polisi Istimewa. Termasuk kegigihan Moekari, dan para pejuang lainnya. Juga disampaikan fakta, bahwa diantara mereka (para pejuang) masih banyak ‎yang hidup menderita.

‎”Atas dasar itulah, kita bentuk GPP-RI. Kalau tidak sekarang, kapan lagi. Kalau bukan kita siapa lagi, yang mau peduli dengan nasib mereka,” ujar Tudji.

Berdirinya GPP-RI di‎ilhami oleh Pudji Hardjanto, anggotanya berbagai latar belakang. Selain menerima donasi, juga secara terjadwal memberikan bantuan kepada pejuang atau jandanya yang hidup berkekurangan, termasuk berbagai aksi sosial lainnya juga dilakukan.

“Dalam waktu‎ dekat, GPP-RI melakukan bedah rumah atau perbaikan rumah milik janda pejuang, di wilayah Sidoarjo. Mohon doanya, agar rencana tersebut berjalan lancar,” pungkas wartawan yang juga anak tentara ini.

Suguhan Karang Taruna wilayah Jojoran, dimotori oleh Khaharuddin yang juga penggagas Taman Pintar ‘Cahaya’ tersebut, selain dihadiri warga, juga hadir Lurah Kelurahan Mojo, Ibu Maria Agustin, yang juga sempat berbincang dengan Moekari, dan mendengarkan kisahnya.





KIM MOJO SURABAYA Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.